THE MAYOR’S VISION
KOTA MELAYU YANG SEDANG TUMBUH SEBAGAI HARMONI DAN PELUANG
“Di antara sungai dan ingatan, Jambi menemukan masa depannya.”
Menjaga Akar, Membangun Masa DepanDi tepi Sungai Batanghari yang mengalir tenang namun menyimpan ingatan panjang peradaban, Kota Jambi berdiri sebagai sebuah ruang yang tidak hanya dihuni oleh manusia, tetapi juga oleh sejarah. Sungai itu bukan sekadar aliran air, melainkan jalur yang dahulu dilayari gagasan, perdagangan, dan pertemuan budaya yang membentuk wajah dunia Melayu.
Jambi, kota yang tumbuh, tanpa kehilangan asal-usulnya.
Dari tepian sungai hingga ke kompleks Candi Muaro Jambi, jejak-jejak peradaban lama masih berbisik pelan. Di sinilah, pada masa silam, ilmu dan perdagangan bertemu dalam satu denyut yang sama. Jambi bukan sekadar bagian dari sejarah Melayu— ia adalah salah satu akarnya.
Hari ini, di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat, Kota Jambi menemukan dirinya kembali pada sebuah peran yang lama tertunda: menjadi simpul yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan dunia Melayu. “Jambi bukan hanya bagian dari sejarah Melayu, tetapi salah satu akar peradaban itu sendiri.”
Demikianlah sebuah perbincangan bersama Walikota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, MKM—sebuah percakapan yang melampaui batas tanya dan jawab. Dalam setiap dialog dengan seorang pemimpin, selalu tersembunyi lapisan yang lebih dalam: cara pandang yang terbentuk dari pengalaman, ritme berpikir yang teruji oleh waktu, serta arah visi yang perlahan menyingkap dirinya melalui pilihan kata yang terukur. Bersama Maulana, percakapan itu tidak berhenti pada wilayah kebijakan semata, melainkan mengalir sebagai cerminan kesadaran yang tumbuh—tentang bagaimana sebuah kota tidak hanya dibangun, tetapi dimaknai, diarahkan, dan dipersiapkan untuk masa depan yang lebih luas.
Dengan nada yang teratur dan penuh ketenangan, setiap kalimat yang beliau sampaikan terasa seperti rangkaian pemikiran yang telah ditempa oleh pengalaman dan perenungan panjang. Tidak tergesa, tidak pula berlebihan, namun mengandung arah yang jelas—sebuah visi tentang bagaimana Jambi tidak hanya bertumbuh sebagai kota, tetapi juga menemukan kembali posisinya dalam bentang peradaban Melayu yang lebih luas.
Kata-kata yang meluncur dari ucapannya bukan sekadar respons, melainkan buah pemikiran yang tersusun rapi—menghubungkan antara sejarah, identitas, dan masa depan. Dalam setiap gagasan yang disampaikan, tersirat keyakinan bahwa pembangunan kota tidak hanya tentang menghadirkan kemajuan fisik, tetapi tentang merawat nilai, membangun kepercayaan, dan membuka ruang bagi generasi yang akan datang untuk melanjutkan perjalanan itu dengan arah yang lebih kuat dan bermakna.
Dalam pandangan Walikota Jambi, posisi ini bukan sekadar kebanggaan historis, tetapi sebuah tanggung jawab yang harus diterjemahkan dalam langkah nyata pembangunan kota.
Di tengah perkembangan kota yang kian pesat, keseimbangan menjadi kata kunci. Pembangunan ekonomi, kemajuan teknologi, dan pelestarian nilai budaya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. “Kami tidak melihat modernisasi sebagai sesuatu yang harus memutus tradisi, tetapi sebagai ruang untuk menguatkan identitas.”
Pemerintah Kota Jambi memilih jalan yang tidak memisahkan modernitas dari nilai. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi didorong melalui sektor perdagangan dan jasa, sementara di sisi lain transformasi digital dijalankan melalui konsep smart city. Namun, identitas Melayu tetap menjadi fondasi. Ia hadir dalam simbol, dalam kebijakan, dan dalam cara kota ini membentuk wajahnya sendiri. “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah tetap menjadi ruh dalam setiap arah pembangunan kota,” tegas Walikota.
Visi Jambi tidak berhenti pada batas administratif. Kota ini diarahkan menjadi kota perdagangan dan jasa yang terbuka, kompetitif, dan berdaya saing di tingkat regional. Langkah-langkah strategis terus ditempuh—penyederhanaan perizinan, pengembangan kawasan ekonomi, serta peningkatan infrastruktur yang mendukung konektivitas. “Kami ingin Jambi menjadi kota yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga dipercaya sebagai mitra ekonomi yang terbuka dan potensial.” tuturnya tegas namun tetap bersahaja, mencerminkan kepemimpinan yang berpijak pada arah yang jelas.
Dalam peta ekonomi kota, sektor perdagangan, jasa, pariwisata, ekonomi kreatif, transportasi, serta UMKM menjadi tulang punggung pertumbuhan. Namun Jambi tidak sekadar mengejar angka pertumbuhan. Kota ini memilih jalan yang lebih dalam—menghidupkan ekonomi melalui identitas dan budaya.
“Bukan sekadar kota masa kini—melainkan jembatan menuju dunia Melayu masa depan.”
Pariwisata pun dikembangkan dengan pendekatan yang berakar pada sejarah, budaya, dan religi. Kampung Arab Melayu, Kampung Cina, hingga kawasan Gentala Arasy menjadi ruang hidup dari narasi peradaban. “Pariwisata bagi kami bukan hanya kunjungan, tetapi pengalaman memahami jati diri sebuah peradaban.”
Tradisi dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih kontekstual—festival budaya, kegiatan religi, hingga ruang-ruang publik yang memancarkan identitas Melayu. Sungai Batanghari pun kembali menemukan perannya, tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai konektivitas yang menghubungkan ruang kota dan sejarah.
Di balik semua itu, kepemimpinan kota bertumpu pada nilai-nilai Melayu yang telah lama diwariskan. “Musyawarah, amanah, dan keadilan bukan sekadar nilai budaya, tetapi fondasi dalam tata kelola pemerintahan modern,” katanya perlahan, seolah merangkai kembali benang-benang nilai lama ke dalam wajah pemerintahan modern
Nilai-nilai ini menjadi dasar dalam membangun pemerintahan yang partisipatif, inklusif, dan berintegritas di tengah tuntutan zaman. Namun masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh generasi mudanya.
Pemerintah Kota Jambi menghadirkan ruang kreatif, pelatihan keterampilan, serta ekosistem yang mendorong lahirnya inovasi dan kewirausahaan. “Kami ingin generasi muda Jambi tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi mampu menciptakannya.”
Generasi ini dipersiapkan untuk menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas—menghubungkan warisan masa lalu dengan peluang masa depan. Dalam konteks yang lebih luas, Jambi juga memposisikan diri sebagai bagian dari jaringan dunia Melayu melalui kerja sama regional dan forum internasional seperti DMDI. “Jambi siap menjadi jembatan yang menghubungkan identitas serumpun dengan peluang ekonomi lintas negara,” ujarnya perlahan, seolah merentangkan garis tak kasat mata yang menghubungkan sejarah, identitas, dan masa depan.”
Peran ini menjadikan Jambi tidak hanya sebagai kota, tetapi sebagai simpul kolaborasi yang mempertemukan budaya dan ekonomi. Menatap 10 hingga 20 tahun ke depan, sebuah gambaran besar mulai terbentuk— kota Melayu yang modern, harmonis, dan berdaya saing tinggi. “Kami membayangkan Jambi sebagai kota yang maju secara teknologi, namun tetap berakar kuat pada nilai budaya dan kearifan lokal.”
Harmoni sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kualitas sumber daya manusia menjadi pilar utama dalam visi tersebut. Dan kepada dunia Melayu—di Indonesia, Malaysia, hingga berbagai belahan dunia—Jambi menyampaikan sebuah pesan yang sederhana namun penuh keyakinan, “Jambi terbuka untuk kolaborasi, investasi, dan masa depan yang dibangun bersama.”
Di tengah dunia yang terus bergerak, Jambi memilih untuk tidak sekadar mengikuti arus. Ia memilih menjadi simpul—tempat pertemuan antara sejarah, peluang, dan masa depan peradaban Melayu.
Pada akhirnya, di tengah dunia yang terus berubah, hanya kota-kota yang memahami jati dirinya yang mampu bertahan dan tumbuh.
Jambi memilih untuk menjadi kota itu.
Bukan sekadar kota yang berkembang, tetapi kota yang mengingat.
Bukan sekadar kota yang bergerak, tetapi kota yang menghubungkan.
Bukan sekadar kota hari ini—tetapi kota masa depan dunia Melayu.