Legacy Makers
MENJAGA YANG TAK TERUCAP:
NTODEA RILIVUTO
DAN MARTABAT SEBUAH NEGERI
“Mengetahui posisi diri adalah bentuk menghormati keseluruhan.”
Di tanah Sulawesi Tengah, hidup tidak pernah sepenuhnya dimaknai sebagai perjalanan seorang diri. Ia selalu hadir sebagai pengalaman kolektif—dijalani bersama, ditanggung bersama, dan dijaga bersama. Dalam kesadaran itulah Ntodea Rilivuto berdiam: sebuah nilai yang tidak banyak diucapkan, tetapi terus bekerja dalam keseharian masyarakat.
“Empati datang terlebih dahulu, bahkan sebelum diminta.”
Bagi masyarakat Kaili, Ntodea Rilivuto adalah etika hidup. Ia mengajarkan cara menempatkan diri agar tidak melampaui batas; cara memahami bahwa setiap langkah manusia selalu memiliki gema sosial—menyentuh keluarga, kampung, dan tatanan adat yang lebih luas. Kehormatan tidak diumumkan, melainkan dijaga. Rasa malu bukan kelemahan, tetapi pagar moral agar manusia tetap tahu diri.
Nilai ini hidup dalam hal-hal sederhana: tangan-tangan yang berkumpul membangun rumah tanpa pamrih; duka yang tak pernah ditanggung sendiri; konflik yang diselesaikan dengan musyawarah, bukan suara keras. Dalam Ntodea Rilivuto, empati mendahului kepentingan, dan tanggung jawab hadir bahkan sebelum diminta.
Dari nilai inilah, dalam tradisi Sulawesi Tengah, kepemimpinan tidak dipahami sekadar sebagai kekuasaan administratif. Seorang pemimpin diharapkan hadir sebagai panjaliku ntodea—pelindung rakyat—yang hidup, berjalan, dan berjuang bersama masyarakatnya.
Dalam lanskap nilai itulah sosok Anwar Hafid Gubernur Sulawesi Tengah dimaknai banyak kalangan sebagai Rilivuto Sulteng— pemimpin yang meneguhkan amanah dan pengabdian, berakar pada spiritualitas dan kearifan lokal Kaili.
Maroso Agama, Maroso Ada, Maroso Pamarentah, Naama Ngata, Nadeabelona.
(Agama, Adat, dan Pemerintahan yang kuat akan melahirkan negeri yang aman dan kebaikan yang melimpah.)
Komitmen kepemimpinan Ketua Umum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Sulteng ini berangkat dari ruang paling sakral dalam kehidupan umat: masjid. Dari masjid, nilai kejujuran, integritas, dan keberpihakan kepada kaum lemah dirawat dan diteguhkan. Masjid bukan semata tempat ibadah, melainkan pusat pembentukan etika kepemimpinan—tempat seorang pemimpin mengikat janji moral di hadapan Tuhan dan rakyatnya.
Di sanalah komitmen tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berkeadilan dimulai. Dalam pandangan budaya Kaili, hubungan antara pemerintah dan rakyat bukanlah hubungan yang berjarak. Leluhur Tokaili telah lama mengajarkan: “Pamarentah dan Todea, laksana mata putih dan hitam, tidak bisa dipisahkan. Ane todea riuve, riuve muni pamarentah. Ane ribuntina pamarentah, ribuntina muni todea.”
Pemerintah dan rakyat bagaikan putih dan hitam pada bola mata—tak dapat dipisahkan. Jika rakyat berada di air, pemerintah pun berada di air. Jika pemerintah berada di darat, rakyat pun berada di darat. Ini bukan sekadar peribahasa, melainkan filosofi kepemimpinan yang menuntut kehadiran nyata, terutama ketika rakyat berada dalam kesulitan.
Bagi Anwar Hafid, nilai ini menjadi landasan membangun tata kelola pemerintahan modern yang tetap berakar. Pemerintahan yang bersih tidak hanya diukur dari sistem dan regulasi, tetapi dari keberanian moral untuk berpihak kepada rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Sebagaimana putih dan hitam pada bola mata saling melengkapi untuk menghadirkan penglihatan yang jernih, demikian pula rakyat dan pemimpin harus menyatu agar arah pembangunan tetap lurus dan berkeadilan. Tanpa salah satunya, keseimbangan akan hilang.
Dari masjid hingga ruang-ruang kebijakan, dari nilai agama hingga kearifan lokal Kaili, kepemimpinan Panjaliku Ntodea Rilivuto Sulteng menjadi simbol harapan—bahwa pemerintahan yang bersih, berintegritas, dan berpihak pada rakyat bukanlah utopia, melainkan amanah yang harus terus dijaga.
DARI SIGA KE AMANAH:
SULAWESI TENGAH DALAM JEJARING DUNIA MELAYU
DAN ISLAM
Bandara Mutiara SIS Aljufri, Palu, pagi itu tidak sekadar menjadi ruang kedatangan. Ia menjelma gerbang pertemuan peradaban, tempat langkah-langkah dari jejaring Dunia Melayu dan Islam berpijak di tanah Sulawesi Tengah. Senin, 27 Januari 2026, udara Palu menyambut kehadiran Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Tun Seri Setia Dr. H. Mohd Ali bin Mohd Rustam, bersama Ketua Umum DMDI Indonesia Datuk Haji Said Aldi Al Idrus dan Sekretaris Jenderal Mohammad Hasbi bersama romobongan DMDI.
Di pintu kedatangan, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid berdiri menyambut. Penyambutan itu tidak semata protokoler; ia dibingkai adat dan kearifan lokal yang telah lama menjadi identitas Bumi Tadulako. Tarian Peulu Cinde dipersembahkan dengan gerak yang lembut namun bermakna. Dalam setiap langkahnya tersimpan doa keselamatan, penghormatan, dan pernyataan bahwa budaya adalah bahasa pertama persahabatan. Pada momen yang sarat simbol itu, Anwar Hafid memakaikan siga—penutup kepala tradisional Sulawesi Tengah—kepada Presiden DMDI. Sebuah gestur sederhana yang menjelma jembatan makna antara lokalitas dan jejaring global.
Penyematan siga tersebut menjadi tanda penerimaan adat sekaligus lambang persaudaraan antara masyarakat Sulawesi Tengah dan komunitas Melayu-Islam lintas negara.v“Budaya adalah pintu masuk persahabatan antarbangsa,” ujar Tun Seri Setia Dr. Mohd Ali bin Mohd Rustam. “DMDI hadir untuk merawat warisan, tetapi juga membangun masa depan yang berakar pada nilai.”
Kunjungan ini dipandang strategis oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Ia membuka ruang dialog, memperluas kolaborasi sosial dan keagamaan, serta memperkokoh posisi daerah dalam jejaring peradaban Melayu dan Islam.
Pelantikan:
Amanah dalam Jejaring 27 Negara
Ballroom Hotel Best Western Coco Palu menjadi saksi momentum penting. Dalam suasana khidmat, Anwar Hafid resmi dilantik sebagai Ketua DMDI Provinsi Sulawesi Tengah periode 2025–2028.
Prosesi diawali dengan tarian Pajoge dan lantunan ayat suci Al- Qur’an. Budaya dan spiritualitas berpadu, membentuk fondasi simbolik bagi kepemimpinan yang berakar.
Ketua Harian DMDI Sulteng, Suaib Djafar, mengingatkan bahwa DMDI yang berdiri sejak tahun 2000 kini hadir di 29 negara, menjadikannya salah satu jejaring Melayu-Islam paling luas di dunia.
Ketua Umum DMDI Indonesia, Datuk Haji Said Aldi Al Idrus, menyebut pelantikan ini istimewa karena dilakukan langsung oleh Presiden DMDI.
“Ini adalah pintu ke 27 negara anggota DMDI. Pengurus yang dilantik hari ini harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat Sulawesi Tengah,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa DMDI bukan sekadar simbol organisasi. “DMDI adalah pintu silaturahmi ke mana pun kita berada. Jangan hanya hadir dalam pelantikan, tapi bantu ketua DMDI membangun Sulawesi Tengah hari ini dan masa depan.”
Di hadapan jajaran pemerintah dan tamu internasional, Anwar Hafid menerima amanah itu dengan sikap tenang. Baginya, jabatan bukanlah puncak, melainkan tanggung jawab yang harus ditunaikan. “Selagi masih dipercaya, saya ambil amanah ini,” ucapnya. “Ini adalah salah satu cara membawa Sulawesi Tengah mendunia, dengan tetap menjaga nilai kemelayuan.”
Dalam pandangannya, DMDI menjadi instrumen diplomasi budaya. Kebudayaan ia maknai sebagai soft power—kekuatan yang menghubungkan, bukan memaksa; yang membangun citra tanpa kehilangan jati diri.
Pada kesempatan tersebut, Anwar Hafid juga menerima Anugerah Tun Perak sebagai bentuk penghargaan atas komitmennya mengajak masyarakat dan aparatur pemerintah meneguhkan nilai spiritual melalui shalat berjamaah di masjid.
Presiden DMDI menyampaikan apresiasi atas ketangguhan Sulawesi Tengah pascagempa, tsunami, dan likuefaksi 2018. “Saya kagum dengan masyarakat Sulawesi Tengah yang terus bangkit dan berdaya saing. Ini menjadi semangat untuk memperkokoh DMDI.”
Mengutip QS. Ash-Shaff ayat 4 tentang pentingnya persatuan, Tun Seri Setia menegaskan bahwa umat Islam yang berjumlah sekitar dua miliar jiwa harus melangkah lebih jauh. “Negeri kita kaya, universitas banyak, profesor ramai. Tetapi apakah kita mencipta perkara baru? Kita harus membangun kemandirian ilmu dan teknologi. Melayu great again.”
Dari penyematan siga di bandara hingga pengucapan amanah di ballroom, rangkaian peristiwa itu menjadi satu kesatuan makna. Sulawesi Tengah tidak sekadar menjadi tuan rumah, tetapi mengambil posisi dalam jejaring global—berakar pada budaya, berorientasi pada kolaborasi, dan berkomitmen pada kemajuan yang inklusif bagi generasi mendatang.