DI JANTUNG BERSEJARAH MELAKA, FESTIVAL MUSLIM SINGAPURA 2026, 13–15 FEBRUARI, SINGAPURA EXPO HALL 6
Haji & Umrah: Persiapkan Hati, Pikiran & Jiwa
Ada sebuah momen, biasanya di antara pintu masuk dan aula pameran pertama, ketika hiruk-pikuk dunia luar perlahan menghilang. Hal itu terlihat dari wajah-wajah orang. Langkah menjadi lebih lambat. Percakapan merendah menjadi lebih tenang. Dan apa pun yang Anda bawa saat masuk, sejenak bisa Anda lepaskan.
Itulah suasana yang menyambut 80.000 pengunjung yang melangkah ke dalam Singapore Expo Hall 6 selama tiga hari di bulan Februari, dalam edisi kelima Singapore Muslim Festival. Diselenggarakan oleh Jamiyah Singapore dengan tema Haji dan Umrah: Persiapkan Hati, Pikiran, dan Jiwa, acara ini, dalam berbagai ukuran, menjadi perhelatan Islam terbesar tahun itu di Singapura. Namun angka semata tidak sepenuhnya menggambarkan bagaimana festival ini benar-benar dirasakan.
RUMAH KUNO, PERSPEKTIF BARU
Barangkali pengalaman yang paling banyak dibicarakan adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam acara Islam di Singapura. Masuki ruang Immersive Experience, dan dunia seolah beru
bah di sekeliling Anda. Bukan hanya di dinding di depan, tetapi juga di lantai tempat Anda berpijak dan langit-langit di atas kepala. Setiap permukaan menjadi bagian dari cerita.
Fitur imersif tahun ini berjudul Kaabah: Rumah Kuno, dan benar-benar menghadirkan apa yang dijanjikan namanya. Pengunjung diajak menyusuri sejarah Kaabah sejak masa Nabi Ibrahim (a.s.) hingga hari ini. Keluarga berdiri di tengah ruangan saat sejarah terbentang di sekeliling mereka. Anak-anak mendongakkan kepala menyaksikan kisah yang hidup di atas mereka. Sebagian orang dewasa berdiri diam cukup lama. Bagi banyak orang, pengalaman ini sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Favorit saya adalah pengalaman imersif yang baru ditingkatkan tentang kisah Nabi Ibrahim (s.a.w.), serta artefak-artefak Islam yang indah terkait Haji dan Umrah. InsyaAllah, saya berdoa suatu hari nanti akan diberi kesempatan karena telah mencari ilmu lebih dalam.” – @angmohmacik
ARTEFAK YANG MEMBUAT ORANG TERPAKU
Jika Immersive Experience membawa pengunjung menelusuri waktu, maka SEERAH International Exhibition menghadirkan sejarah suci dalam jarak yang hampir dapat disentuh. Dan hal itu tercermin dari hasilnya. Ketika pengunjung ditanya pengalaman mana yang paling mereka nikmati, pameran SEERAH menempati posisi teratas, dipilih oleh lebih dari setengah responden.
Mudah untuk memahami alasannya. Dipamerkan artefak-artefak yang berkaitan dengan Haji dan Umrah, didatangkan langsung dari Makkah dan Madinah. Kunci Kaabah dari era Kekaisaran Ottoman, bertarikh 1056H. Fragmen batu dari dinding Kaabah itu sendiri. Kain Kiswah yang pernah menyelimuti bangunan suci tersebut. Karpet Raudhah dari Taman Surga di Masjid Nabawi. Potongan sejarah yang begitu dekat, seolah Anda dapat merasakan beratnya berabad-abad yang menyertainya.
Relawan berdiri di sekitar untuk menjawab pertanyaan, tetapi sebagian besar pengunjung hampir tidak membutuhkan arahan. Mereka bergerak di dalam area itu seperti orang yang berada di tempat yang berarti bagi mereka—perlahan dan penuh perhatian.
ANTRIAN VR YANG SEOLAH TAK PERNAH BERKURANG
Di seberang aula, sebuah perjalanan lain sedang berlangsung. Zona VR dan Metaverse memberi pengunjung kesempatan untuk menjalankan ritual Haji dan Umrah melalui headset, melangkah secara virtual ke dalam Tawaf di sekitar Kaabah, Sa’i antara Safa dan Marwah, serta wukuf di Arafah.
Zona Metaverse memperluas pengalaman ini lebih jauh, dengan akses virtual ke Rumah Nabi Muhammad (SAW), Masjid Al-Aqsa, dan Masjid Nabawi.
Bagi mereka yang telah menunaikan Haji, ini terasa seperti pulang ke rumah. Bagi yang masih menunggu giliran untuk berangkat, ini lebih seperti latihan untuk mimpi seumur hidup. Antrian yang panjang sepanjang tiga hari itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
“Kunjungan virtual Metaverse ke Masjid Nabawi terasa sangat imersif, apalagi dengan pilihan bahasa (Inggris, Melayu & Indonesia). Dan video Haji & Umrah mandiri itu? Benar-benar membuat hati saya bernostalgia dengan perjalanan Umrah saya.” – Fazura
ZONA INTERAKTIF
Hal baru di SMF 2026 adalah Zona Interaktif, sebuah ruang khusus di mana pengunjung dari segala usia dapat berinteraksi dengan pembelajaran Islam secara langsung dan menyenangkan. Di pusatnya terdapat JAM+ (Jamiyah’s Amazing Multimedia+), di mana aktivitas gamifikasi, kuis, dan augmented reality menghidupkan kisah para Nabi serta makna Haji dan Umrah.
Zona anak-anak memperluas pengalaman ini dengan lingkungan yang aman dan ramah, dipenuhi aktivitas yang sesuai bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan bereksplorasi sesuai ritme mereka sendiri. Mereka juga memiliki sudut khusus dengan pemutaran Team Noon, serial animasi yang menggabungkan keajaiban ilmiah dalam Al-Qur’an ke dalam petualangan yang mudah dipahami dan dinikmati oleh anak-anak.
“Sebagai seorang mualaf, belajar tentang Islam bisa terasa membingungkan. Menghadiri acara seperti Singapore Muslim Festival yang memiliki pengalaman interaktif membantu saya belajar dan berkembang dalam perjalanan saya dengan jauh lebih mudah!” – Jasmine
MALAM YANG MENJADI MILIK MUSIK
Ketika matahari terbenam di Singapore Expo, panggung utama menjadi jantung festival. Pada Sabtu malam, Gegar Nasyid memenuhi aula dengan sesuatu yang sulit dibuat-buat namun langsung terasa ketika hadir: perasaan ribuan orang yang berbagi emosi yang sama pada waktu yang sama.
Snada dari Indonesia, serta Al-Jawaher dan Al-Mizan dari Singapura tampil bergantian di atas panggung. Penonton bernyanyi bersama, mengangkat tangan, dan bergoyang dalam kebersamaan yang membekas lama.
Hari Minggu menghadirkan Mega Selawat dan Mahal Qiyam, sebuah pertemuan spiritual yang menutup festival dengan suara-suara yang bersatu dalam pujian kepada Nabi. Ahbaabul Mukhtar dari Indonesia, Ar-Rayyan dari Malaysia, dan Ikhwanul Muntaqa dari Singapura masing-masing membawa nuansa berbeda. Saat acara berakhir, aula menjadi hening—hening yang muncul setelah sesuatu yang benar-benar menyentuh.
LANTAI FESTIVAL YANG PENUH KEHIDUPAN
Di antara pameran dan panggung, lebih dari 150 stan vendor mengubah area festival menjadi pasar yang hidup dan dinamis. Makanan halal dari berbagai wilayah menarik antrian panjang yang penuh keceriaan. Konsultan perjalanan dari Usrah Travel dan Travel Connect berbincang dengan calon jamaah tentang paket Umrah. Busana, buku, produk kesehatan, dan mainan anak-anak memenuhi setiap lorong.
Salah satu sorotan yang lebih tenang adalah APSN Tanglin Cafe, di mana para siswa dari Association for Persons with Special Needs mengelola sebuah kafe yang melayani pengunjung. Setiap cangkir teh atau camilan yang dibeli juga menjadi investasi kecil dalam perjalanan mereka menuju kemandirian—dan para pengunjung festival tampaknya memahami hal itu. Kafe tersebut tidak pernah sepi pelanggan.
“Siswa APSN Tanglin School kami menjalani dua hari yang bermakna di Singapore Muslim Festival 2026, dengan mendukung JAM+ Café bersama Jamiyah Singapore. Melalui keterlibatan langsung dalam situasi dunia nyata, mereka melatih kerja sama tim, komunikasi, dan keterampilan kerja, sekaligus membangun kepercayaan diri dan kesiapan kerja melalui kemitraan komunitas yang inklusif.” – Guru APSN Tanglin School
Singtel, sebagai Mitra Operator Telekomunikasi Resmi pertama festival ini, menghadirkan Singapore Dreamin’ Pavilion, yang menyoroti empat usaha kecil lokal. Ini menjadi pengingat bahwa komunitas tidak hanya dibangun di masjid dan ruang-ruang diskusi. Komunitas juga tumbuh dalam transaksi kecil sehari-hari antara orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama.
SESUATU YANG LAYAK UNTUK KEMBALI DIKUNJUNGI
Memasuki edisi kelima, Singapore Muslim Festival telah menjadi sesuatu yang sulit ditiru dan bahkan lebih sulit dijelaskan kepada mereka yang belum pernah mengalaminya. Ini memang sebuah festival. Namun, lebih dari itu, ia adalah ruang di mana sejarah dan teknologi berdampingan tanpa canggung, di mana keimanan dieksplorasi dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar kewajiban, dan di mana 80.000 orang dari berbagai latar belakang menemukan titik temu hanya dengan hadir.
Saat keluarga-keluarga meninggalkan lokasi pada malam penutupan, banyak yang уже membicarakan tahun depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah SMF akan kembali, melainkan kejutan apa yang akan dihadirkannya ketika itu terjadi.